Minggu, 21 Desember 2014
Home Serba Serbi Opini Sektor-Sektor Energi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi
Sektor-Sektor Energi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi PDF Cetak E-mail
Oleh Muslimin Anwar, PhD   
Senin, 22 Juni 2009 09:19

Perekonomian Indonesia pada tahun 2009 diprakirakan akan menghadapi tantangan berat. Berlanjutnya pelemahan ekonomi global dan turunnya harga-harga komoditas dipastikan akan menekan ekspor Indonesia yang pada gilirannya berdampak pada menurunnya kinerja neraca pembayaran.
Neraca Transaksi Berjalan pada 2009 diperkirakan akan mengalami defisit sekitar 0,11 % dari PDB, sementara penurunan impor tidak setinggi penurunan ekspor. Kendati kegiatan ekspor melambat akibat turunnya permintaan dari luar negeri, perekonomian Indonesia diprediksi tidak akan memasuki masa resesi.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2009 diperkirakan berada di kisaran 4,0-5,0 %. Sumber utama pertumbuhan ekonomi berasal dari permintaan domestik, khususnya kegiatan konsumsi Pemerintah (10,4%) dan rumah tangga (4,8%).
Konsumsi rumah tangga, meskipun terancam perlambatan, diperkirakan masih bertahan disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, adanya rencana pemerintah memberikan tambahan stimulus fiskal pada 2009. Paket stimulus ekonomi yang telah tercakup dalam APBN 2009, di antaranya adalah proyek-proyek infrastruktur senilai Rp. 32 trilliun di Departemen Pekerjaan Umum (PU) dan di Departemen Perhubungan senilai Rp. 16 trilliun.
Kedua, komitmen pemerintah merealisasikan anggaran lebih awal. Ketiga, adanya rencana kenaikan gaji PNS. Keempat, faktor Pemilu. Kelima, adanya rencana kenaikan UMP. Keenam, adanya berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok. Ketujuh, ketersediaan pembiayaan yang semakin murah sejalan dengan tingkat suku bunga yang semakin kondusif sepanjang tahun 2009.
Berdasarkan sektoral, prakiraan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 akan didukung oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengakutan dan komunikasi, sektor listrik, gas, dan air minum. Peningkatan konsumsi masyarakat akan memacu pertumbuhan subsektor industri makanan, minuman dan tembakau, serta subsektor industri alat angkutan.
SEKTOR-SEKTOR ENERGI PENYUMBANG PERTUMBUHAN EKONOMI
Sementara itu, sektor-sektor energi yang akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2009 adalah Pertambangan Migas (2,5 %), pertambangan bukan Migas(2,5 %), serta Listrik dan Gas (6,5 %). Pesanan Batubara untuk perusahaan besar sudah penuh hingga tahun 2011, belum termasuk tambahan yang akan digunakan oleh PLN berkaitan dengan selesainya secara bertahap proyek-proyek listrik 10 ribu MW. Sementara itu sektor penggalian dan sektor industri migas akan tumbuh masing-masing sebesar 5 %.
Sektor energi mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam perekonomian, antara lain sebagai sumber penerimaan negara serta pemenuhan kebutuhan bahan bakar untuk industri, rumah tangga, dan transportasi.
Pada tahun 2008, kontribusi sektor energi dan sumber daya mineral terhadap penerimaan negara mencapai Rp 346,437 Triliun atau 36 % dari total penerimaan negara sebesar Rp. 962,5 Triliun. Faktor kenaikan harga minyak dan booming harga batubara menjadi pemicu realisasi penerimaan di tahun 2008 meningkat sebesar 53 %.
Dari 36 % (Rp. 346 Triliun) penerimaan negara dari sektor ESDM tersebut, migas menyumbang 31,5% (Rp. 303 Triliun), pertambangan umum 4,4 % (Rp. 42 Triliun), dan lain-lain seperti iuran badan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa, jasa teknologi, jasa diklat, sewa gedung dan lain-lainnya yang diperkirakan mencapai sekitar 0,1 % (Rp. 1,2 Triliun). Penerimaan migas ini telah melebih rencana di tahun 2008 sebesar Rp. 298,272 T (33,3 %), ataupun penerimaan di tahun 2007 yang sebesar Rp. 225 Trilliun (30,2 %).
Angka penerimaan ESDM di tahun 2008 ini juga jauh di atas penerimaan di tahun 2006 yang sebesar Rp 222 Triliun (36,1 %), tahun 2005 yang sebesar Rp. 155 Triliun (31,4 %), dan tahun 2004 yang sebesar Rp. 117 Triliun (29,1 %). Pada tahun 2009 ini, harga minyak dunia diperkirakan berada pada kisaran yang lebih rendah dibanding tahun 2008. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap penerimaan dari sektor migas.
Penerimaan negara dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) pada 2009 diperkirakan turun 21,76 % disbanding tahun 2008. Penerimaan negara dari sektor ESDM pada tahun ini ditaksir hanya sebesar Rp. 271 Triliun. Ini terdiri atas penerimaan migas Rp. 226 Trilliun, pertambangan umum Rp 43 Triliun, dan penerimaan lain-lain sekitar Rp. 2 Triliun.
Penerimaan dari sektor ESDM tahun ini berdasarkan asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp. 11.500, harga minyak mentah nasional (Indonesia Crude Price/ICP) US$ 103 per barel, dan produksi minyak yang bisa dijual (lifting) sebanyak 931.000 barel per hari (bph).
INVESTASI ESDM
Pada tahun 2009, terdapat komitmen investasi ESDM sebesar US$ 28,6 miliar, atau naik US$ 10 miliar dibandingkan perkiraan realisasi tahun 2008 yang hanya US$ 18,63 miliar. Komitmen investasi 2009 itu sudah termasuk hasil ICEF (Indonesia-China Energy Forum) ketiga AS yang sebesar 3,2 miliar dolar AS. Investasi sektor migas sendiri diperkirakan US$ 16,6 miliar atau mencapai 66 % dari total target investasi. Investasi tersebut terdiri dari hulu migas yang meliputi blok migas yang sudah ada, blok migas baru, dan blok gas metana batubara (coal bed methane/CBM). Sedangkan hilir migas terdiri dari dua kilang mini minyak bumi, satu kilang pelumas bekas, tiga kilang mini elpiji, penyimpanan gas alam cair, niaga BBM dan jaringan pipa gas.
Sementara itu, target investasi sektor pertambangan umum sebesar US$ 2,1 miliar atau mencapai 8 %. Untuk investasi sektor ketenagalistrikan ditargetkan US$ 6,6 miliar atau sebesar 26 %. Proyek-proyek ketenagalistrikan adalah pembangkitan di antaranya sebagian proyek pembangkit 10.000 MW dan swasta sebesar 15.629 MW. Dari komitmen investasi tahun depan itu diharapkan akan menyerap tenaga kerja sebanyak 149.000 orang.
NERACA PERDAGANGAN ESDM
Sementara itu, neraca perdagangan sektor ESDM sejak 2004-2009 selalu surplus. Data Bank Indonesia menyebutkan, pada 2004, nilai ekspor dan impor sektor ESDM masing-masing sebesar US$ 24,35 miliar dan US$ 13,03 miliar. Berarti terjadi surplus US$ 11,32 miliar.
Pada 2005, ekspor dan impor ESDM masing-masing US$ 29,56 miliar dan US$ 18,50 miliar dengan surplus US$ 11,05 miliar. Setahun kemudian, surplus sektor ESDM sebesar US$ 17,49 miliar dengan nilai ekspor da impor masing-masing US$ 36,28 miliar dan US$ 18,78 miliar.
Adapun pada 2007, ekspor dan impor sektor ESDM masing-masing US$ 40,25 miliar dan US$ 22.31 miliar dengan surplus US$ 17,94 miliar. Sedangkan tahun 2008, nilai ekspor dan impor sektor ESDM mencapai masing-masing US$ 50,09 miliar dan US$ 32,16 miliar dengan surplus US$ 17,39 miliar.
PENGARUH PENURUNAN HARGA ESDM
Ancaman penurunan penerimaan di tahun 2009 akan mendorong pemerintah untuk melakukan penyesuaian pola pengeluaran dalam RAPBN 2009 berupa efisiensi belanja konsumsi dan investasi. Kebijakan mengurangi belanja tersebut pada gilirannya mendorong perlambatan pengeluaran konsumsi dan investasi pemerintah pada tahun 2009.
Menghadapi tantangan perlambatan ekonomi, maka kini saatnya untuk berbenah di sektor ESDM. Hal yang perlu dilakukan utamanya adalah meningkatkan cadangan melalui intensifikasi pencarian, dan melakukan konservasi energi.
Upaya di atas dapat dicapai melalui optimalisasi produksi dari lapangan yang telah ada, pengembangan lapangan sumur tua, pengembangan lapangan minyak marginal, percepatan produksi lapangan baru, dan perbaikan iklim investasi. Di sisi hilir perlu dilakukan upaya peningkatan infrastruktur produksi dan distribusi BBM, BBN, LPG, dan BBG.
Terkait dengan subsidi, subsidi energi perlu diarahkan terutama untuk memberikan akses lebih banyak kepada masyarakat terhadap energi, baik dalam bentuk BBM (Premium, Minyajk Tanah, Solar), LPG, dan Listrik. Upaya mengurangi subsidi BBM perlu dilakukan melalui percepatan konversi minyak tanah ke LPG, pemenuhan kewajiban pemanfaatan BBN, pelaksanaan tata niaga BBM bersubsidi, dan pembangunan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga. Selain itu pengalihan subsidi minyak tanah ke LPG selain untuk lebih meningkatkan efisiensi, juga diarahkan pada pemanfaatan energi bersih dan ramah lingkungan.


Oleh Muslimin Anwar, PhD

(Disampaikan dalam round table discussion “Skala Prioritas Anggaran Pembanguna di Sektor ESDM” , Rabu 28 Januari 2009)

SocialTwist Tell-a-Friend
 

Gold Price Update

Gas Price Update

Artikel Terkait

Komentar